Hal-hal Ini yang Membuat Perusahaan Asuransi Kesehatan Tidak Akan Menyetujui Klaim

Bagi pemegang polis asuransi kesehatan, mereka tidak akan merasa khawatir lagi bila harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Mereka memang akan membayar sendiri biaya rumah sakit tapi setelah itu biaya yang sudah dikeluarkan akan diganti rugi oleh pihak asuransi. Dengan begitu, akan muncul rasa nyaman dan tenang dalam hati dan pikiran karena tidak mengeluarkan banyak uang. Hal baik lainnya adalah mereka juga bisa mendapatkan layanan rawat inap atau rawat jalan sesuai kebutuhan. Namun, semua manfaat ini tidak akan didapatkan oleh pemegang polis jika pihak asuransi tidak menyetujui klaim karena hal-hal di bawah ini:

Masa aktif polis sudah habis

Ada masa berlaku pada polis sejak pertama kali dibeli. Pada umumnya, polis asuransi akan terus aktif apabila pemegang polis rajin membayar premi sesuai ketetapan. Ada juga sejumlah perusahaan yang menerapkan sistem kontrak di mana polis harus diperbaharui atau diperpanjang masa aktifnya selama beberapa tahun sekali. Maka dari itu, ketahui masa aktif polis asuransi dan jangan biarkan sampai habis. Jika melakukan klaim ketika masa aktif polis sudah habis, pihak asuransi tidak akan memberikan biaya ganti rugi sedikit pun. Itu berarti bahwa semua biaya harus ditanggung oleh pemegang polis. Ini jelas tidak menguntungkan dan merugikan. Untuk itu, jika polis perlu diperpanjang masa aktifnya, lakukan sesegera mungkin agar tak ditolak ketika melakukan klaim.

Dokumen yang dibutuhkan tidak dilengkapi

Perusahaan asuransi akan meminta nasabah yang melakukan klaim untuk menyerahkan sejumlah dokumen kepada mereka guna memperlancar pengajuaan klaim. Adapun beberapa dokumen wajib yang harus diserahkan tersebut adalah bukti pembayaran berupa kuitansi asli dari pihak rumah sakit (khusus untuk perusahaan asuransi yang menerapkan sistem reinbursement), surat rujukan dari dokter yang merawat, salinan hasil pemeriksaan dokter dan juga resep obat, dan formulir yang sudah diisi lengkap dan ditanda tangani oleh dokter. Mungkin ini terbilang terlalu merepotkan policy holder tapi ini adalah prosedur standar operasional atau SOP dari pihak asuransi yang harus dijalankan oleh pemegang polis. Dengan adanya dokumen-dokumen tersebut, mereka pun bisa percaya kepada nasabah dan tidak akan menganggap bahwa nasabah sedang melakukan tindak penipuan. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka tidak mau kasus penipuan menimpa mereka jika hanya meminta klien mereka hanya menyerahkan formulir klaim tanpa dokumen-dokumen dari pihak rumah sakit.

Data yang diberikan palsu

Segala tindak penipuan di zaman modern seperti saat ini terbilang cerdas dan sulit untuk dideteksi. Tak heran apabila memberikan kepercayaan kepada orang lain itu merupakan hal yang cukup sulit dilakukan saat ini. Hal serupa juga dilakukan oleh pihak asuransi guna mencegah segala bentuk penipuan untuk mendapatkan uang. Salah satu hal yang sangat mereka waspadai adalah pemalsuan data yang nasabah berikan ketika mengajukan klaim. Ada banyak kemungkinan di mana nasabah memberikan data palsu, baik berupa kuitansi pembayaran, tanda tangan dokter, surat keterangan dari pihak rumah sakit dan lain sebgaainya. Guna mengantisipasi hal ini, pihak asuransi pun akan menerjunkan staf mereka untuk mengecek keaslian data yang sudah mereka pegang. Jika terbukti adanya tindak penipuan berupa pemalsuan data, klaim akan segera ditolak dan nasabah bisa saja berurusan dengan pihak kepolisian. Sebaliknya, jika data memang benar adanya, mereka akan segera memproses dan menyetujui klaim yang sudah diajukan. Dalam kurun waktu paling sedikit dua minggu, dana akan dicairkan dan diberikan kepada pemegang polis.